Beranda | Artikel
Para Nabi Mewariskan Ilmu Bukan Harta
Kamis, 11 Juni 2020

Bersama Pemateri :
Ustadz Abdullah Taslim

Para Nabi Mewariskan Ilmu Bukan Harta adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah TaslimM.A. pada Kamis, 20 Syawwal 1441 H / 11 Juni 2020 M.

Ceramah Agama Islam Tentang Para Nabi Mewariskan Ilmu Bukan Harta

Saat ini kita masih melanjutkan pembahasan di segi yang ke-37, hadits panjang yang kita telah baca penjelasan kalimat demi kalimat yang diterangkan Imam Ibnul Qayyim dalam pembahasan yang sangat berfaidah ini.

Terakhir kemarin kita bahas mengenai makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam suratAn-Naml:

وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ…

Dan Nabi Sulaiman mewarisi Nabi Dawud ‘Alaihish Shalatu was Salam..” (QS. An-Naml[27]: 16)

Ini adalah warisan kemuliaan, warisan ilmu, warisan kenabian, warisan petunjuk yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada mereka ‘Alaihimush Shalatu was Salam. Jadi para Nabi dan para Rasul tidak mewariskan harta, tidak uang emas, tidak juga perak. Yang mereka wariskan adalah kemuliaan ilmu karena itulah kemuliaan yang sesungguhnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikian pula dikatakan di sini oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala: Sama dengan ucapannya Nabi Zakariya ‘Alaihish Shalatu was Salam tentang warisan yang disebutkan di dalam surat Maryam ayat ke-5 dan ke-6:

وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِن وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا ﴿٥﴾ يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ ۖ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ﴿٦﴾

Sesungguhnya aku mengkhawatirkan anggota keluargaku yang setelahku nanti dan istriku adalah seorang yang tidak punya keturunan, maka berikanlah dari sisiMu bagiku seorang anak yang dia akan mewarisiku dan mewarisi keluarga Nabi Yakub ‘Alaihish Shalatu was Salam dan jadikanlah penerusku ini orang yang engkau ridhai.” (QS. Maryam[19]: 5-6)

Kata Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala bahwa yang diminta juga oleh Nabi Zakaria di sini adalah pewaris yang mewarisi dalam hal ilmu, bukan mewarisi harta. Karena para Nabi tidak meninggalkan uang emas dan tidak juga uang perak, tidak meninggalkan harta.

Maka ini maksudnya adalah warisan ilmu, warisan kenabian, warisan dakwah, mengajak manusia ke jalan Allah. Karena tidak mungkin kita akan menyangka kepada seorang Nabi yang mulia seperti Nabi Zakaria ‘Alaihish Shalatu was Salam bahwa dia mengkhawatirkan anggota keluarganya akan mewarisi hartanya. Mungkinkah Nabi seperti itu? Dia tidak ingin anggota keluarganya yang mewarisi hartanya, maka akhirnya dia meminta kepada Allah seorang anak supaya menghalagi keluarganya dari warisannya sehingga anak ini yang lebih berhak untuk mendapatkan hal tersebut. Mungkinkah Nabi punya sifat tamak dan rakus seperti ini? Tentu tidak mungkin. Nabi yang mulia ‘Alaihish Shalatu was Salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala mensucikan para Nabi dan RasulNya ‘Alaihimush Shalatu was Salam sifat seperti ini dan yang semisalnya; sifat tamak, atau kikir, ini tidak pantas ada pada orang yang shalih apalagi Nabi yang mulia ‘Alaihimush Shalatu was Salam.

Jadi ini terang sekali menjelaskan makna sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang telah kita baca haditsnya di pertemuan yang lalu.

إنَّ الأنْبِياءَ لَمْ يُورِّثُوا دِينَاراً وَلا دِرْهَماً وإنَّما ورَّثُوا الْعِلْمَ، فَمنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para Nabi ‘Alaihimush Shalatu was Salam tidak mewariskan emas maupun perak yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya sungguh dia telah mengambil bagian yang sempurna.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Jadi para Nabi ‘Alaihimush Shalatu was Salam dari ayat-ayat Al-Qur’an ini menjelaskan warisan juga yang mereka minta kepada Allah agar dimudahkan ada yang meneruskan mereka dalam hal ini dari anak-anak mereka adalah warisan kenabian, warisan ilmu, warisan dakwah mengajak manusia ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka sangat jauh dari rahmat Allah bagi seorang yang menyelewengkan makna dari Al-Qur’an dan menolak sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta menisbatkan para Nabi kepada perkara yang buruk yang mereka berlepas diri darinya dan Allah telah mensucikan mereka darinya dan segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala atas taufik dan hidayahNya. Ini menggambarkan kepada kita tentang pentingnya kita merujuk kepada tafsiran para ulama karena kalau kita menafsirkan ayat-ayat tadi dengan pemikiran kita sendiri kita akan menyangka ini adalah warisan harta yang kita ketahui tidak mungkin para Nabi dan para Rasul memiliki sifat yang sangat rakus terhadap harta sebagaimana kalau kita menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan penafsiran yang hanya berdasarkan pemahaman kita, tidak merujuk kepada pernyataan atau penjelasan para ulama ahli tafsir, para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Kemudian sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

فَمنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحظٍّ وَافِرٍ

“Maka barangsiapa yang mengambil warisan dari para Nabi ini, berarti dia telah mengambil bagian yang sangat besar.”

Ini bagian yang tidak akan pernah habis, bagian yang balasannya kekal abadi. Ketika bagian-bagian dunia semua habis, maka bagian dari warisan ilmu tidak akan pernah habis karena dia kekal karena diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang karuniaNya adalah karunia yang kekal abadi di akhirat nanti.

Kata Ibnul Qayyim ketika menjelaskan makna potongan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini bahwa sebesar-besar bagian, sebesar-besar keeruntungan dan yang paling bermanfaat adalah yang memberikan faidah bagi seorang hamba dan faidahnya itu kekal terus-menerus tidak berakhir dengan berakhirnya dunia, terus dirasakannya dunia akhirat. Dan bagian ini tidak mungkin didapatkan kecuali bagian yang berupa ilmu dan kebaikan agama. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjadikan agama ini balasannya adalah kemuliaan dunia akhirat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan agama ini sebagai jalan untuk mencapai keridhaanNya yang keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah termasuk kenikmatan tertinggi yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada penghuni surga pada hari kiamat nanti.

Inilah bagian yang kekal dan terus bermanfaat yang ketika bagian-bagian dunia lainnya telah terputus dari pemiliknya, karena akan habis, fana, entah pemiliknya mati kemudian habis harta tersebut atau hartanya hancur atau kedudukannya hilang ketika orangnya masih hidup, yang jelas terputus bagian-bagian dunia tersebut dari pemiliknya. Tapi bagian ilmu dan bagian agama ini terus bersambung bagi pemiliknya kekal abadi selama-lamanya. Kita ingat segala sesuatu yang merupakan penghantar manusia untuk mencapai keridhaan Allah, untuk meraih keutamaan memandang wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia akan kekal dengan kekalnya wajah Allah, ini pernyataan dari Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala dalam tafsir beliau ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

Segala sesuatu yang ada di muka bumi ini akan binasa, semua akan hancur, umurnya terbatas, akan terputus pada waktunya, kecuali wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Qashash[28]: 88)

Maka segala sesuatu yang ditujukan untuk memandang wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meraih kenikmatan bertemu dan memandang wajah Allah dia akan kekal dengan kekalnya wajah Allah. Ini juga makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di ayat yang terkenal di surat Ar-Rahman:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ﴿٢٦﴾ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ﴿٢٧﴾

Segala sesuatu yang ada di muka bumi ini akan fana, akan habis, akan hancur dan yang akan kekal adalah wajah Rabbmu, wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki keagungan dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman[55]: 26)

Hal ini dikarenakan bagian ilmu dan bagian agama ini berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak akan mati selama-lamanya, yang kekal abadi selama-lamanya. Oleh karena itu bagian ilmu ini tidak akan pernah terputus dan tidak akan habis, tidak akan hilang, sementara bagian-bagian dari urusan dunia yang lainnya ini yang akan hilang, ini yang akan habis, yang akan terputus seiring dengan terputusnya hal-hal yang berhubungan dengannya dari urusan dunia. Kalau sudah hancur, pasti akan hancur, habis, pasti ada usianya semua yang ada di dunia ini. Baik itu orangnya maupun harta yang dimilikinya atau kedudukan yang selama ini menjadi kemuliaan bagi dirinya.

Makanya kita ketahui amal-amal kita kerjakan sesuai dengan ilmu dan ikhlas, kenapa dia balasannya kekal di akhirat? Karena amal ini ditujukan untuk mencari wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun amal-amal yang tujuannya semata-semata karena dunia apa nasibnya? Gugur amal-amalnya, binasa dan sia-sia. Amal-amal yang dikerjakan sebanyak apapun kalau tidak ikhlas karena niatnya untuk dunia yang fana, maka dia nasibnya akan fana sebagaimana tujuan ditunjukkannya amal tersebut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا ﴿٢٣﴾

Dan Kami hadapi amal-amal yang mereka kerjakan sewaktu di dunia lalu kami jadikan amal-amal itu seperti debu-debu yang berserakan.” (QS. Al-Furqan[25]: 23)

Artinya tidak ada nilainya, tidak bisa mendapatkan hasil, dia dinyatakan gugur dan berhamburan, binasa, sia-sia. Ini karena tujuan atau niat dari amalnya adalah sesuatu yang akan terputus, yang akan hilang, maka amalnya pun akan mengikuti nasib dari niat atau tujuannya itu. Maka terputuslah amal itu disaat-saat orang yang  telah mengamalkannya sedang sangat butuh dengan amal tersebut. Bagaimana mungkin tidak butuh, pada hari kiamat ketika dia menghadapi ancaman adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala dia bergantung kepada amal yang dilakukannya, ternyata amalnya seperti debu yang berhamburan. Akhirnya dia mendapatkan balasan yang tidak seperti pasangkannya. Sebagaimana yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an:

وَبَدَا لَهُم مِّنَ اللَّـهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ ﴿٤٧﴾

Tampaklah di hadapan mereka balasan dari sisi Allah yang mereka tidak perhitungkan sebelumnya.” (QS. Az-Zumar[39]: 47)

Ini nasibnya amal-amal yang dibangung tidak di atas iman, tidak di atas aqidah yang benar, tidak di atas ikhlas. Maka wahai kaum muslimin Rahimakumullah.. Ingat, belajar tentang iman, belajar meluruskan aqidah, belajar tentang hal-hal yang memudahkan kita memurnikan tauhid dengan taufiq dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, mempelajari sebab-sebab yang menjauhkan kita dari kesyirikan, ini yang akan menjadikan amal kita bernilai meskipun sedikit daripada nanti terjadi seperti apa yang disebutkan di ayat ini, amal-amal yang kelihatannya banyak tapi dijadikan debu-debu yang berhamburan, tidak ada nilainya. Yang saat itu hamba sedang butuh-butuhnya kepada amal tersebut. Na’udzubillahimindzalik.

Oleh karena itu kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala keburukan, utamanya hal-hal yang bisa menggugurkan atau membatalkan amal yang ini kebanyakannya kembali kepada masalah-masalah yang berhubungna dengan masalah keimanan, keikhlasan. Karena tadi kaidahnya: Bahwasanya nasib satu amalan itu tergantung dari niatnya. Jika niatnya untuk yang kekal abadi (Allah), maka dia akan kekal dengan kekalnya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi kalau niatnya untuk sesuatu yang hilang dan terputus, maka dia juga akan hilang dan terputus ketika hal-hal yang berkaitan dengannya juga hilang dan dan terputus.

Simak penjelasan lengkapnya pada menit ke-11:10

Download MP3 Kajian Tentang Para Nabi Mewariskan Ilmu Bukan Harta

Download mp3 kajian yang lain di mp3.radiorodja.com


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/48556-para-nabi-mewariskan-ilmu-bukan-harta/